37 Generasi Milennial berkumpul dalam acara NUNI Student Camp 2018 di Surabaya

Updated

Bertempat di Ubaya Training Center, Trawas – Jawa Timur diadakan Student Camp NUNI 2018. Sebanyak 37 mahasiswa dari 10 universitas ( Universitas Andalas, Universitas Bina Nusantara, Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Katolik Soegijapranata, Universitas Kristen Petra, Universitas Surabaya, Universitas Muhammadyah Malang, yang tergabung dalam NUNI mengikuti acara ini. Acara yang berlangsung pada 8-10 Juli 2018 tersebut mengusung tema Millennial Leadership. Dalam Student Camp NUNI, Universitas Surabaya sebagai panitia lokal menjadikan empat desa di Kecamatan Trawas sebagai studi kasusnya, dimana mahasiswa diminta untuk memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi. Desa tersebut adalah Desa Duyung, Desa Tamiajeng, Desa Penanggungan dan Desa Siman.

Acara dibuka oleh Bapak Drs.ec. Sujoko Efferin M.Com(Hons)., M.A., Ph.D. selaku Direktur Kerjasama Kelembagaan Universitas Surabaya. Sesi pertama dibawakan oleh Bapak M. Iwan Abdillah, SH., S.Sos., M.Si selaku mantan Camat Kecamatan Trawas. Ia membagikan kearifan lokal, potensi dan tantangan yang ada di Kecamatan Trawas. Selain itu ia menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit yang peninggalannya banyak sekali di daerah Trawas dan sekitarnya.

esi berikutnya dibawakan oleh Bapak Harijanto Tjahjono, S.Psi., M.Ed., Ed.D., Psikolog, beliau merupakan dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Bapak Harijanto membagikan mengenai Cultural Inteligence: Why Talking to Stranger is Good for you. Dalam sesi tersebut menceritakan manusia sebagai mahkluk sosial yang tidak pernah lepas dari pertemuan dengan orang baru yang nantinya akan ada interaksi sehingga memungkinkan untuk munculnya budaya yang baru.

Untuk menunjang pengetahuan tentang desa yang akan dikunjungi, LPPM Universitas Surabaya memberikan pembekalan terlebih dahulu mengenai keempat desa yang nantinya dikunjungi yaitu Desa Tamiajeng (industri makanan), Desa Duyung (potensi wisata), Desa Penanggungan (sayuran organik) dan Desa Siman (penganggulangan sampah). Kemudian para mahasiswa dibagi menjadi empat kelompok, dimana setiap kelompok berisi kurang lebih 9 orang. Keesokan harinya para mahasiswa berangkat ke desa yang dituju. Mereka bertemu dengan para kepala desa dan berdiskusi mengenai permasalahan yang terjadi di desa tersebut. Selain itu, para mahasiswa juga diajak ke lokasi permasalahan yang ada di desa tersebut. Kembali dari keempat desa tersebut, para peserta berdiskusi dan menulis proposal sesuai dengan arahan dari LPPM Universitas Surabaya. Mahasiswa diajak untuk berdiskusi dan berinteraksi dengan sesama anggota kelompok agar dapat memberikan solusi yang tepat sesuai dengan permasalahan yang ada di tiap desa.

Mahasiswa juga mendapatkan sharing dari Bapak Soegiharto Tan yang merupakan salah satu alumnus Universitas Surabaya yang sekarang membentuk Fun Academy. Beliau membagikan peran pemimpin sebagai contributor, connector, dan sebagai creator. Selain itu Pak Soegiharto membagikan bagaimana cara berkomunikasi dengan berbagai tipe orang melalui DISC.

Pada hari terakhir, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil analisa terhadap permasalahan yang mereka temukan serta solusi yang mereka tawarkan kepada desa setempat. Hasil analisa mereka dipresentasikan di hadapan mahasiswa lainnya serta perwakilan universitas anggota NUNI yang hadir pada hari itu yang bertepatan dengan acara Presidential Forum NUNI di Ubaya Kampus Tenggilis. [BNS]